Pengaruh Pelayanan Administrasi Kampus Terhadap Tingkat Kepuasan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Mata
Kuliah Analisis Kuantitatif
Dosen
Pengampu : Dr. Suranto, M.Pol
Nama : M.Amir Hamzah
Nim : 20130520223
Kelas : A
Jurusan
Ilmu Pemerintahan
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Muammadiyah Yogyakarta
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Perkembangan
zaman yang begitu cepat menyebabkan dunia pendidikan menghadapi tantangan yang
amat berat, dimana semakin meningkatknya kebutuhan masyarakat terhadap
pendidikan formal, khususnya pendidikan tinggi, menjadikan perguruan tinggi
sebagai sektor strategis yang diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia
yang bermutu dan mampu bersaing di era global. Keadaan persaingan yang cukup
kompetitif antar perguruan tinggi menuntut lembaga pendidikan memperhatikan mutu
pendidikan dan kelembgaan sehingga mampu serta unggul dalam persaingan
tersebut.
Perguruan
tinggi harus melakukan langkah antisipasi guna menghadapi persaingan yang
semakin kompetitif serta bertanggung jawab untuk menggali dan meningkatkan
segala aspek pelayanan yang dimiliki, karena sebuah pelayanan yang dimiliki oleh
lembaga tertentu akan menjadi gambaran dari kualitas lembaga tersebut, jika
pelayanan yang diberikan menurut konsumen itu baik maka sebuah lembaga tersebut
bisa dikatakan baik. Tapi sebaliknya jika pelayanan yang dimiliki suatu lembaga
buruk maka lembaga tersebut akan dikatakan buruk dalam hal pelayanan akademik.
Pelayanan akademik dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh perguruan
tinggi untuk memberikan kemudahan pada pemenuhan kebutuhan mahasiswa dalam hal
yang berkaitan dengan kegiatan akademik.
Tujuan
tersebut hanya akan tercapai jika secara minimal prosesnya bersifat
komunikatif. Di sinilah komunikasi sebagai salah satu cabang ilmu sosial
menjadi sangat berperan, sebagaimana secara mendasar komunikasi mencakup segala
aspek kehidupan manusia. “ditinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi
dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri
atas manusia, yakni pegawai (karyawan/staf dan dosen/pengajar) sebagai
komunikator dan pelajar sebagai komunikasi.”[1]
Perguruan
tinggi merupakan salah satu bentuk bidang usaha jasa yang bergerak dalam bidang
pendidikan tinggi. Jasa adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat
ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat
intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. [2]
Jasa
berbeda dengan barang, jika barang merupakan suatu objek, alat, atau benda,
maka asa adalah suatu perbuatan, kinerja (performance),
atau usaha. (Hasil diskusi kelompok peneliti Muhammad et.al. Kamis, 20 November
2014) Meskipun sebagian besar jasa dapat berkaitan dan didukung oleh fisik
namun esensi dari apa yang dibeli pengguna jasa adalah performance yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lainnya.
Pentingnya komunikasi yang efektif bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri,
begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Oleh karena itu, para pimpinan
organisasi dan para komunikator dalam organisasi perlu memahami dan
menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka.
Komunikasi
adalah pertukaran pesan verbal maupun nonverbal antara si pengirim (individu,
kelompok, atau organisasi) dan si penerima (anggota organisasi, kelompok orang
dalam organisasi, atau organisasi secara keseluruhan) pesan untuk mengubah
tingkah laku (kognitif, afektif, dan psikomotor).[3]
Dari
pengertian diatas begitulah seharusnya komunikasi yang dilakukan oleh bagian
akademik sebagai organisasi dalam melayani mahasiswa. Keberhasilan jurusan sebagai unit kerja dalam perguruan
tinggi sangat ditentukan oleh mutu pelayanan yang diberikan, dimana pelayanan
yang bermutu dapat diidentifikasi melalui kepuasan pengguna jasa, dalam hal ini
adalah mahasiswa. Sebuah perusahaan/organisasi yang bersedia memberikan
kualitas pelayanan yang baik pastinya akan memperoleh tanggapan-tanggapan yang
baik bukanlah berdasarkan sudut pandang/persepsi penyedia jasa (Universitas)
melainkan berdasarkan sudut pandang pengguna jasa (mahasiswa). Hal ini
disebabkan pengguna jasa yang mengkonsumsi serta yang menikmati jasa layanan.
Namun,
tak sedikit pihak yang menilai pelayanan akademik di Prodi Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sungguh kurang layak dan kurang memadai.
Pasalnya, pelayanan yang diberikan begitu lamban, kurang ramah dan membuat
sebagian pihak merasa jenuh dengan sikap tak bersahabat dari tenaga bagian
akademik. Prokrastinasi juga menjadi salah satu kebiasaan yang paling sering
ditemui. Terdapat beberapa permasalahan akademik yang dijumpai antara lain
terkait masalah pengurusan Kartu Rencana Studi (KRS).
Kurangnya
koordinasi dan komunikasi antara pegawai akademik/jurusan dengan dosen juga
dapat menjadi penghambat pengurusan KRS dan perubahan jadwal kuliah. Sistem KRS
online yang dianggap lebih efektif
dan efisien, dianggap dapat memperlambat proses pengurusan KRS itu sendiri.
Nilai yang seharusnya telah ter-input
dalam system online ternyata masih
terkendala, belum adanya nilai mata kuliah yang keluar secara manual dan
menyeluruh. Kurang adanya koordinasi antara pegawai akademik dengan dosen
pemegang mata kuliah, diduga sebagi faktor utama yang menghambat sistem pemasukan
nilai.[4]
Adanya
perubahan jadwal kuliah di awal semester oleh beberapa oknum dosen, seakan
menjadikan jadwal akademik jurusan hanya formalitas belaka. Banyak terjadi
tabrakan antara jadwal kuliah yang ditentukan dosen dengan jadwal kuliah
lainnya. Dosen merubah hari kuliah dan mengganti ruangan, tabrakan kelas dengan
jurusan lain, pindah jadwal kuliah yang tidak diketahui beberapa mahasiswa.[5]
Kejadian
seperti ini sudah menjadi momok yang harus dihadapi oleh mahasiswa setiap
semester baru berjalan, dimana semua pemindahan seharusnya dilaporkan ke bagian
akademik dan selanjutnya diumumkan kepada mahasiswa yang bersangkutan. Jika
perubahan jadwal, pemindahan ruangan atau penggabungan kelas dilakukan tanpa
sepengetahuan mahasiswa, tentu saja si mahasiswa yang akan dirugikan, karena
dosen mengira jika mahasiswa tersebut tidak masuk karena sengaja padahal
realita yang sebenarnya tidak begitu. Terdengar pula keluhan-keluhan dari
mahasiswa dikampus tentang sulitnya menemui penasehat akademik.
Permasalahan
akademik lainnya yang juga sering dijumpai yaitu terkait dengan kehadiran dosen
dalam mengajar. Pelayanan akademik ini juga menjadi salah satu masalah yang
biasa dihadpi mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Misalnya, sering kali di
UMY ketidaktepatan waktu dosen hadir atau selesai dalam proses belajar mengajar
dan hal itu tentu saja membuat mahasiswa resah dan harus menunggu lebih dari
jam yang telah ditentukan oleh pihak jurusan. Selain itu, tidak maksimalnya ketersediaan
fasilitas sarana dan prasarana pendukung proses pembelajaran , misalnya LCD
yang digunakan sebagai proyektor dalam mengajar rusak sehingga proses
perkuliahan sedikit terhambat.
Tidak
dapat dipungkiri lagi bahwa komunikasi merupakan faktor yang sangat esensial
dalam berintraksi dengan mahasiswa.
Bilamana terjadi gap/kesenjangan
dalam komunikasi maka akan menimbulkan penilaian negatif terhadap kualitas
jasa/pelayanan yang diberikan. Padahal seharusnya mereka menyadari bahwa
sebagai pegawai akademik haruslah memberikan pelayanan yang baik kepada
pengguna jasa mereka (mahasiswa) sehingga akan tercapai kepuasan yang sama-sama
diinginkan.[6]
Masalah
pelayanan bukan hal sepele karena ini terkait dengan Prodi Ilmu Pemerintahan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang memperoleh akreditasi A. Dengan
demikian, pelayanan akademik prodi Ilmu Pemerintahan UMY harusnya dapat
memberikan pelayanan yang semakin prima dan lebih baik kepada mahasiswa dan
untuk mengetahui berhasil atau tidaknya suatu pelayanan yang berkualitas salah
satunya dapat di ketahui dengan melihat tanggapan mahasiswa yang merupakan
sasaran utama pelayanan sehingga dengan adanya tangapan tersebut dpat diketahui
sejauh mana keberhasilan pelayanan yang telah diberikan kepada mahasiswa.
B. RUMUSAN
MASLAH
Adakah
Pengaruh Pelayanan Administrasi Kampus Terhadap Tingkat Kepuasan Mahasiswa
Ilmpu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta?
C. TUJUAN
PENELITIAN
Untuk
mengetahui pengaruh pelayanan administrasi Kampus Terhadap kepuasan Mahasiswa
Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
D.
MANFAAT PENELITIAN
a. Manfaat
Teoritis
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memperoleh cakrawala dan wawasan pengetahuan
yang lebih mendalam tentang efektifitas pelayanan publik sehingga dapat
memberikan sumbangan bagi pengembangan teori ilmu-ilmu sosial khususnya Ilmu
Sosial.
b. Manfaat
Praktis
1. Fakultas
Fisipol
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi
prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam membenahi
diri agar menjadi lebih baik dan bisa dijadikan pelajaran bagi prodi Ilmu
Pemerintahan UMY sehingga menjadi lebih baik lagi dalam pelayanannya untuk
mahasiswa.
2. Civitas
Akademisi dan Staff (Pegawai)
Dengan adanya
penelitian ini dapat memberikan pencerahan dan kepekaan bagi segenap Civitas
Akademisi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk setidaknya melaksanakan
amanah dengan sebaik-baiknya dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pula baik
dari segi pelayanan administrasi lebih-lebih dalam hal proses pembelajaran.
3. Mahasiswa
Ilmu Pemerintahan
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat membantu mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMY sebagai jalur dan
cara penyampaian aspirasi serta keluhan dari mahasiswa tentang tingkat
pelayanan administrasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kurang
memuaskan mahasiswa.
E.
KERANGKA
TEORI
E.1 Pelayanan Akademik
E.1.1
Pengertian Pelayanan
Di
dalam pekerjaan teknis Administrasi, layanan merupakan bagian dari aktifitas
yang berupa mekanis. Layanan pada dasarnya adalah orang yang memberikan atau
mengurus apa yang diperlukan oleh orang lain baik berupa barang atau jasa
kepada pengguna jasa yang membutuhkan suatu informasi. Menurut yang dikemukakan
oleh Gronroos (dalam bukunya Ratminto dan Atik Septi Winarsih tentang manajemen
pelayanan) mendefinisikan pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian
aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan Pegawai atau hal-hal lain yang
disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untu memecahkan
permasalahan konsumen/pelanggan.[7]
Pada
prinsipnya konsep pelayanan memiliki berbagai macam definisi yang berbeda
redaksi, namun pada intinya merujuk pada konsepsi dasar yang sama. Dan berikut
diberikan beberapa definisi mengenai pengertian pelayanan.
1) Kotler dialih bahasakan oleh Hendra
Teguh, mendefinisikan:Pelayanan adalah kegiatan atau manfaat yang ditawarkan
oleh suatu pihak pada pihak yang lain yang pada dasarnya tidak menghasilkan
kepemilikan.[8]
2) Moenir menyatakan:Pelayanan merupakan
proses pemenuhan kebuuhan melalui akivitas orang lain
secara langsung. Pengertian
proses ini terbatas
dalam kegiaan manajemen dalam kegiatan manajemen untuk pencapaian tujuan
organisasi.[9]
3) Menurut Bharata seperti dikutip
Erlando dinyatakan: Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang
terjadi dalam interaksi langsung
antara seseorang dengan
orang lain ataumesin secara fisik, dan menyediakan
kepuasan pelanggan[10]
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan:Pelayanan adalah membantu menyiapkan
(mengurus) apa yang diperlukan seseorang.[11]
5) Sedangkan dalam Kep.MenPan No. 81/93
dinyatakan: Pelayanan umum adalah segala bentuk pelayanan yang diberikan
pemerintah pusat/daerah, BUMN/BUMD, dalam rangka pemenuhan kebutuhan
masyarakat, dan atau peraturan peerundang-undangan yang berlaku.[12]
6) Tjiptono dalam Sonya Mahanani
menyatakan: Pelayanan adalah setiap
tindakan atau perbuatan
yang dapat ditawarkan oleh suatu
pihak kepada puhak yang lain, yang pada dasarnya bersifat tidak berwujud fisik
dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun.[13]
E.1.2 Pelayanan Akademik
Dalam
kaitan dengan dunia pendidikan, pelayanan dibagi menjadi tiga, yaitu pelayanan
akademik atau kurikuler, administrasi dan ekstra kurikuler. Penelitian ini
lebih menitik beratkan kepada pelayanan akademik dengan tidak mengesampingkan
pelayanan non akademik. Pelayanan akademik dimaksudkan sebagai pelayanan yang
terkait dengan peraturan akademik, perkuliahan, kurikulum, bimbingan/konsultasi
akademik, praktikum, tugas akhir, evaluasi, termasuk alat bantu perkuliahan
seperti perpustakaan, OHP, laboratorium, dan lain-lain.
Beberapa
jenis pelayanan akademik akan diuraikan secara singkat. Pertama, pelayanan akademik tentang perkuliahan melibatkan banyak
unsur, diantaranya: Dosen. Sudarwan Danim berpendapat bahwa tenaga kependidikan
(termasuk dosen), dilihat sebagai totalitas yang satu sama lain secara sinergi
memberikan sumbangan terhadap proses pendidikan, pada tempat dimana mereka
memberikan pelayanan. Tugas lembaga pendidikan secara umum adalah memberikan
pelayanan optimal kepada peserta didik khususnya dan customer pendidikan pada
umumnya, pada titik di mana pelayanan itu harus dilakukan (2003: 80).Hal senada
dikemukakan oleh Mastuhu, bahwa berhasil atau tidaknya penyelenggaraan
pendidikan bermutu tergantung pada jumlah atau mutu para actor atau petugas
yang melaksanakannya. (2004: 109). Dosen memiliki fungsi dominant dalam
pelayanan akademik karena tugas dosen di sini adalah mengajar, membimbing, dan
menguji.
Kedua,
pelayanan akademik terkait dengan kurikulum,
Nasution seperti dikutip Suryo Subroto (1984), berpendapat bahwa
organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk bahan pelajaran yang akan disampaikan
kepada muris-murid. Organisasi kurikulum sangat erat hubungannya dengan tujuan
pendidikan yang hendak dicapai karena pola-pola yang berbeda akan mengakibatkan
cara penyampaian pelajaran yang berbeda pula.
Ketiga,
sarana dan prasarana pendukung. Sarana pendukung meliputi peralatan,
perlengkapan laboratorium, perpustakaan dan alat bantu pembelajaran. Prasarana atau disebut
fasilitas meliputi gedung dengan segala perlengkapannya, fasilitas komunikasi
E.2 Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan
dapat didefinisikan sebagai
seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan
atas layanan yang mereka terima. Kualitas pelayanan dapat diketahui dengan cara
membandingkan persepsi para pelanggan atas layanan yang benar-benar mereka
terima.
Kualitas
pelayanan merupakan penghubung terakhir dalam rantai aktivitas bagi sistem
total quality management. Kualitas pelayanan juga merupakan sebuah unsur
penting dari total quality untuk mempengaruhi keputusan. [14]
Philip
Kotler terdapat lima determinan kualitas pelayanan yang dapat dirincikan
sebagai berikut :
1) Kepercayaan atau
kehandalan (Reliability): kemampuan
untuk melaksanakan pelayanan yang dijanjikan dengan tepat dan
terpercaya. Yaitu berupa penilaian mahasiswa yang berhubungan dengan penampilan
fisik, ruang akademik/jurusan, sarana dan prasarana perkuliahan, kebersihan wc,
kenyamanan di Lingkungan Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta
2) Daya
tanggap (Responsiveness):
kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat atau ketanggapan.Yaitu berupa penilaian mahasiswaterhadap
kesigapan pegawai akademik/jurusanProdi Ilmu Pemerintahan Universitas
Muhammadiyah Yogyakartadalam membantu dan menangani keluhan mahasiswa dengan
cepat dan tepat.
3) Keyakinan (Assurance): pengetahuan dan kesopanan Pustakawan serta kemampuan
mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.Yaitu berupapenilaian
mahasiswaterhadappengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pegawai akademik/jurusanProdi Ilmu Pemerintahan Universitas
Muhammadiyah Yogyakartadalam menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaannya.
4) Empati (Empaty): syarat untuk peduli, member perhatian pribadi bagi
pelanggan.Yaitu berupapenilaian mahasiswaterhadap keramahan, kemampuan
berkomunikasi serta perhatian penuh dari pegawai akademik/jurusanProdi Ilmu
Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
5)
Berwujud (Tangibles):
penampilan fasilitas fisik, peralatan, personel dan media komunikasi.[15] Yaitu
berupapenilaian mahasiswa yang berhubungan dengan penampilan fisik, ruang
akademik/jurusan, sarana dan prasarana perkuliahan, kebersihan wc, kenyamanan
di lingkungan.Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Ukuran
keberhasilan penyelenggaraan pelayanan di tentukan oleh tingkat kepuasan
penerima pelayanan.Kepuasan penerima pelayanan dicapai apabila penerima
pelayanan memperoleh pelayanan sesuai denganyang dibutuhkan dan diharapkan.
Oleh karena itu, dalam kaitanya dengan tingkat
kepuasan masyarakat keputusan
MENPAN No. 63 Tahun 2004 mengamanatkan agar setiap penyelenggara
pelayanan secara berkala melakukan survei indexs kepuasan masyarakat.[16]
E.3 Kepuasan Pelanggan
E.3.1
Pengertian Kepuasan
Kotler (2000) menyatakan bahwa
kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari
perbandingan kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan
harapan-harapannya. Jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas.
Hal ini dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan yaitu dapat menurunkan
jumlah pelanggan dan menyebabkan pelanggan tidak tertarik lagi menggunakan jasa
perusahaan sehingga akan menurunkan laba perusahaan. Menurut Schanaar (1991),
pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah untuk menciptakan pelanggan yang
merasa puas. Terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat
antara lain, hubungan yang harmonis antara perusahaan dan konsumennya,
memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas
pelanggan dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word-of-mouth)
yang menguntungkan bagi perusahaan (Tjiptono, 1994).
Untuk mendapatkan
gambaran mengenai
konsep kepuasan, berikut diberikan beberapa definisi para ahli:
1) Tjiptono
dan Chandra mendefinisikan kepuasan
sebagai upayapemenuhan sesuatu ataumembuat sesuatu
memadai[17]
2)
Kotler mendefinisikan
kepuasan
sebagai perasaan
senang atau
kecewa seseorang yang
dialami setelah membandingkan
antara persepsi
kinerja atau hasil suatu produk dengan
harapan-harapannya.
3)
Biong
menjelaskan kepuasan sebagai
sebuah konsekuensi
atau akibat atas pengalaman
satu pihak terhadap kemampuan
pihak lain untuk memenuhi norma-norma
atau aturan-aturan
dengan harapan-
harapannya[18]
4)
Kepuasan
didefinisikan Muhmin sebagai
sebuah keadaan kasih saying yang positif
dihasilkan dari penilaian
perusahaan terhadap
seluruh aspek dari
hubungan bekerjanya dengan perusahaan
lain[19]
5)
Assael menyebutkan bahwa
“A satisfied customer is your
best sales person. Satisfied
customer influence
friends
andrelative tobuy, dissatisfied
customers inhibit sales” ( Seorang pelanggan yang
puas
merupakan penjual perorangan
terbaik. Pelanggan
yang puas
akan mempengaruhi rekan-rekannya dan
kecenderungan membeli, pelanggan yang
tidak
puas
akan menghambat
penjualan)[20]
Kepuasan
pelanggan adalah konsep
penting dalam
pemasaran dan penelitian konsumen. Sudah menjadi pendapat umum bahwa
jika konsumen
merasa puas dengan suatu
produk atau merek, mereka
cenderung akan
terus membeli dan menggunakannya
serta
memberitahu
orang
lain tentang pengalaman
mereka
yang menyenangkan dengan produk
tersebut. Jika mereka tidak dipuaskan, mereka cenderung beralih merek serta mengajukan keberatan
pada produsen, pengecer, dan bahkan menceritakannya
kepada konsumen atau pelanggan lain. Melihat tingginya tingkat kepentingannya pada
pemasaran. Kepuasan
telah menjadi subjek dari beberapa
penelitian
konsumen yang dilakukan
cukup gencar.[21]
Hasil kepuasan pelanggan
disebut juga dengan mutu,
karna mutu
dapat
didefinisikan sebagai sesuatu
yang memuaskan dan
melampaui keinginan dan
kebutuhan pelanggan. Mutu ini bisa disebut sebagai mutu
yang hanya
ada dimata orang yang melihatnya.
Ini merupakan definisi yang
sangat
penting. Sebab, ada
satu
resiko yang sering
sekali
kita abaikan dari
definisi ini, yaitu
kenyataan
bahwa
para
pelanggan
adalah
pihak yang membuat keputusan terhadap
mutu. Dan mereka melakukan penilaian
tersebut dengan
merujuk pada produk terbaik
yang bias bertahan
dalam persaingan.
Dalam era
kompetisi bisnis yang
ketat
seperti
sekarang, kepuasan pelanggan merupakan hal
yang utama,
pelanggan
diibaratkan seorang raja
yang harus dilayani namun
hal ini bukan berarti
menyerahkan
segalanya
kepada
pelanggan.
Usaha memuaskan kebutuhan pelanggan harus
dilakukan secara menguntungkan atau
bersifat win-win solution yaitu
keadaan dimana kedua
belah pihak merasa
menang dan tidak
ada yang dirugikan.[22]
Tom Peters, dalam
Thriving On Chaos, membicarakan tentang peran
penting pelanggan dalam
menentukan mutu dengan
menekankan
bahwa
mutu yang dirasa
(perceivedquality) dari
sebuah produk bisnis atau
jasa adalah factor utama yang
mempengaruhi kesuksesan
produk atau jasa
tersebut. Peters berpendapat
bahwa mutu yang didefinisikan oleh pelanggan jauh lebih penting dibandingkan harga dalam
menentukan permintaan
barang dan
jasa. Peters menemukan
kenyataan
bahwa pelanggan
akan
selalu membayar
lebih
baik untuk mutu yang baik,
tanpa menghiraukan tipe
produknya.
Dan dia juga berpendapat
bahwa
karyawan
menjadi jauh lebih berenergi
ketika
mereka
memiliki kesempatan
untuk memberikan layanan yang
bermutu atau menghasilkan
produk yang bermutu.
Walaupun
demikian, dia selalu mengingatkan
bahwa
pelaku-
pelaku pasar yang baru ikut bergabung juga akan
member membuat para pelanggan
melakukan redefinisi terhadap mutu[23], atau yang
sama artinya
dengan kepuasan pelanggan.
E.3.2
Pengertian Pelanggan
Pelanggan adalah semua
orang
yang menuntut kita atau lembaga
untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu,
dan
karena itu
akan
berpengaruh
pada performan si lembaga.[24] Pada
dasarnya
kepuasan pelanggan
dapat didefinisikan secara
sederhana
sebagai suatu keadaan dimana kebutuhan,
keinginan, dan harapan
pelanggan dapat terpenuhi
melalui produk yang di konsumsi.[25] Kepuasan
pelanggan merupakan
tanggapan perilaku,
berupa evaluasi pelanggan terhadap
suatu barang atau
jasa yang dirasakannya dibandingkan dengan
harapan
atau ekspektasi
terhadap produk
atau jasa.“Secara
tradisional pelanggan
diartikan orang yang
membeli
dan menggunakan
produk. Dalam perusahaan yang
bergerak dibidang jasa,
pelanggan adalah
orang yang
menggunakan jasa pelayanan”[26]
“Menurut Vincent Gaspersz
pelanggan adalah semua
orang yang
menuntut kita untuk memenuhi suatu standar
kualitas tertentu, dan
oleh karena itu akan
memberikan pengaruh
pada
kinerja atau performansi
(performance)
kita”.[27]
Banyak pakar mendefinisikan mengenai kepuasan
pelanggan. Wikie (1990) dalam Tjiptono (1999) mendefinisikan kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi
terhadap pengalaman pelanggan suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan
merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya
sama atau melampaui harapan pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul apabila
hasil tidak memenuhi harapan (Engel, 1990).
Dari berbagai definisi diatas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa pada dasarnya pengertian kepuasan pelanggan mencakup perbedaan
antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan. Penilaian kepuasan
pelanggan mempunyai tiga bentuk yang berbeda, yaitu:
- Positive disconfirmation, dimana kinerja
lebih baik dari harapan
- Simple confirmation, dimana kinerja sama
dengan harapan
- Negative disconfirmation, dimana kinerja
lebih buruk dari harapan.
Banyak pakar yang
memberikan definisi
mengenai kepuasan
pelanggan. Engel mengunkapkan
bahwa kepuasan
pelanggan merupakan evaluasi
pengguna jasa sebuah lembaga, dimana
alternative yang dipilih sekurang- kurangnya
memberikan hasil (outcome) sama atau
melampaui harapan
pelanggan, sedangkan ketidak
puasan timbul apabila hasil
yang diperoleh
tidak
memenuhi harapan pelanggan. Sedangkan pakar pemasaran, Kotler menjelaskan
bahwa
kepuasan pelanggan adalah tingkat
perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja
atau hasil yang
ia rasakan
dibandingkan
dengan harapannya.[28]
Karena kepuasan pelanggan sangat
tergantung pada
persepsi dan
ekspektasi mereka,
kita sebagai
lembaga yang memasok produk
perlu mengetahui beberapa factor yang mempengaruhi hal
tersebut. Faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi dan harapan
pelanggan adalah sebagai
berikut:
1) Kebutuhan dan keinginan
yang berkaitan
dengan hal-hal yang
dirasakan pelanggan.
2) Pengalaman masalalu ketika mengkonsumsi
prosuk dari perusahaan maupun pesaing-pesaingnya.
3) Pengalaman
dari teman-teman, dimana
mereka akan
menceritakan
pengalaman yang mereka dapatkan kepada
teman-teman
mereka.
Kepuasan pelanggan
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja
atau hasil yang
dirasakan. Karena
pelanggan adalah
orang yang
menerima hasil pekerjaan seseorang, maka pelangganlah
yang menentukan
kualitas
suatu produk. Ada beberapa
unsur penting dalam kualitas yang
ditetapkan
pelanggan,yaitu
sebagai berikut:
1)
Pelanggan harus
merupakan prioritas
utama organisasi
2) Pelanggan
yang dapat
diandalkan merupakan
pelanggan yang
paling
penting.
3) Kepuasan pelanggan
dijamin dengan menghasilkan produk
berkualitas tinggi
dan perbaikan terus-menerus.
E.3.3 Faktor-Faktor
Menentukan
Tingkat Kepuasan
Menurut Lopiyoadi, terdapat lima
faktor utama yang harus diperhatikan
oleh perusahaan atau lembaga dalam menentukan
tingkat kepuasan
pelanggan yaitu
:
1)
Kualitas Produk
2)
Kualitas Pelayana
3) Emosional
4) Harga
5) Biaya[29]
Dalam buku karangan Dr.Patricia
Patton yang
berjudul
EQ Pelayanan sepenuh hati, faktor kepuasan
pelanggan dapat
dilihat dari terpenuhinya
lima
komponen layanan sepenuh
hati yaitu:
a)
Memahami Emosi-Emosi Kita
b)
Kompetensi
c)
Mengelola Emosi-Emosi Kita
d)
Bersikap Kreatif dan
Memotivasi
diri sendiri
e)
Menyelaraskan
Emosi-Emosi Orang
Lain[30]
Dari
kelima
komponen layanan sepenuh hati
itu yang
terpenting
dalam faktor-faktor mencapai
kepuasan pelanggan
adalah
menyelaraskan yaitu
membangun jembatan
emosi-emosi kita, emosi-emosi
klien,
dan layanan
yang diberikan.
E.3.4 Strategi
Kepuasan
Upaya mewujudkan kepuasan
pelanggan total
bukanlah hal
yang mudah. Bahkan Muide dan Cottam menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan
total
tidak
mungkin tercapai
sekalipun hanya untuk
sementara waktu.
Namun,
upaya
perbaikan
atau penyempurnaan
kepuasan dapat
dilakukan dengan
berbagai strategi. Pada
prinsipnya,
strategi kepuasan pelanggan
akan
menyebabkan para pesaing harus bekerja keras dan memerlukan
biaya
tinggi
dalam usahanya
merebut pelanggan sebuah
lembaga.
Kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka
panjang yang membutuhkan komitmen,
baik menyangkut
dana
maupun sumber daya manusia. Ada
beberapastrategi
yang dapat dipadukan
untuk meraih dan meningkatkan kepuasan pelanggan, antara
lain:[31]
1)
Strategi superior customer service
2)
Strategi unconditional service guarantees atau extraordinary guarantees
Strategi
ini berintikan komitmen untuk memberikan kepuasan pada
pelanggan yang
pada
gilirannya akan menjadi
sumber dinamisme penyempurnaan
mutu jasa dan
kinerja lembaga. Selain
itu juga akan meningkatkan motivasi
para
karyawan
untuk mencapai tingkat kinerja
yang lebih baik dari pada sebelumnya.
Garansi
atau jaminan mutlak dirancang untuk meringankan risiko/kerugian
pelanggan.
Garansi
tersebut menjanjikan
kualitas prima dan
kepuasan pelanggan, sehingga
memaksa lembaga untuk memberikan yang terbaik dan
meraih
loyalitas
pelanggan. Fungsi
utama garansi adalah untuk meminimalisir rasa kecewa para pelanggan atas
segala
sesuatu yang diberikan
oleh lembaga yang bersangkutan.
Suatu garansi
yang baik harus memenuhi beberapa kriteria,
diantaranya adalah:
a)
Realistis
dan dinyatakan
secara spesifik
b)
Sederhana, komunikatif,dan mudah dipahami
c)
Tidak membebani pelanggan dengan
syarat-syarat
yang berlebihan
d)
Berfokus pada kebutuhan pelanggan
e)
Memberikan standar kinerja
yang jelas
E.3.5 Hubungan Kualitas Jasa
Dengan Kepuasan Konsumen
Kualitas mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan kepuasan konsumen.Kualitas memberikan suatu
dorongan kepada konsumen untuk menjalin suatu ikatan yang kuat dengan
perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan ini akan memungkinkan perusahaan untuk
memahami dengan seksama harapan dari pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan
demikian, perusahaan akan dapat meningkatkan kepuasan konsumen yang paling menyenangkan
dan meminimalkan atau meniadakan pengalaman konsumen kurang menyenangkan yang
pada gilirannya kepuasan konsumen dapat menciptakan kesetiaan dan loyalitas
pelanggan kepada perusahaan yang memberikan kualitas yang memuaskan.
Kualitas jasa yang unggul dan
konsisten dapat menumbuhkan kepuasan pelanggan yang akan memberi berbagai
manfaat (Tjiptono, 1994), seperti :
a. Hubungan perusahaan dan pelanggan menjadi
harmonis.
b. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
c. Dapat mendorong terciptanya loyalitas konsumen.
d. Membentuk rekomendasi dari mulut ke mulut yang
menguntungkan
bagi perusahaan.
e. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata konsumen.
f. Laba yang diperoleh perusahaan akan meningkat.
E.3.6 Strategi Penanganan
Keluhan Yang
Efisien
Penanganan keluhan yang baik memberikan peluang
untuk mengubah
seorang
pelanggan yang
tidak puas menjadi pelanggan yang
puas, manfaat
lainnya
antara lain:
a)
Penyedia
jasa memperoleh kesempatan lagi
untuk memperbaiki hubungan
dengan pelanggan
yang kecewa
b)
Penyedia jasa bisa terhindar dari publisitas negative
c)
Penyedia jasa akan mengetahui
aspek-aspek yang perlu dibenahi dalam
pelayanannya pada saat
ini
d)
Penyedia jas aakan
mengetahui
sumber masalah operasinya
Proses penanganan
keluhan yang efektif
dimulai dari identifikasi dan
penentuan
sumber masalah yang
menyebabkan pelanggan
tidak
puas dan mengeluh. Langkah ini merupakan
langkah yang
sangat penting, karena
menentukan efektivitas
langkah-langkah
selanjutnya.
Sumber
masalah
ini perlu diatasi dan ditindaklanjuti
agar
dimasa mendatang tidak timbul
masalah yang sama.
Ketidakpuasan bias semakin
besar
apabila
pelanggan
yang mengeluh
merasa keluhannya tidak diselesaikan dengan baik.
Yang
penting bagi pelanggan adalah bahwa pihak lembaga
harus
menunjukan
rasa
perhatian,
keprihatinan,
dan penyesalan
terhadap
kecewanya
pelanggan dan berusaha
memperbaiki situasi. Oleh
karena itu
para
karyawan/pegawai
perlu dilatih dan
diberdayakan
untuk mengambil keputusan dalam
rangka
menangani situasi-situasi
seperti itu.
Ada empat aspek penting dalam
penanganan keluhan,
yaitu sebagai
berikut:
a)
Empati pada pelanggan
yang
marah
b)
Kecepatan dalam penanganan keluhan
c)
Kewajaran atau
keadilan
dalam memecahkan
permasalahan atau
keluhan
d)
Kemudahan bagi
pelanggan untuk menghubungi perusahaan[33]
Jika aspek penting tersebut diatas
dilaksanakan
dengan baik maka para pelanggan tidak timbul
kekecewaan
yang lain.
E.3.7 Strategi
Peningkatan Kinerja
Lembaga
Hal ini meliputi berbagai upaya seperti melakukan
pemantauan dan pengukuran kepuasan
pelanggan secara
terus menerus dan
berkesinambungan,
memberikan
pendidikan dan
pelatihan menyangkut
komunikasi, salesmanship,dan publicrelation kepada
pihak manajemen dan karyawan, memasukkan unsur kemampuan untuk memuaskan pelanggan
kedalam sistem
penilaian prestasi karyawan.
E.3.8 Menerapkan Quality Function
Deployment (QFD)
QFD yaitu
praktik untuk merancang
suatu
proses sebagai
tanggapan terhadap
kebutuhan pelanggan.[34] QFD
dapat didefinisikan
sebagai
suatu proses atau mekanisme
terstruktur untuk menentukan kebutuhan
pelanggan
dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan
itu kedalam kebutuhan teknis yang relevan, dimana
masing-masing area fungsional dan
level organisasi dapat mengerti
dan bertindak.
QFD apabila
diterapkan secara tepat akan memberikan
hasil-hasil sebagai berikut:
a)
Meningkatkan efektivitas komunikasi diantara departemen-departemen
b)
Kebutuhan pelanggan dibawa melalui
proses
langsung keoperasional
c)
Lebih sedikit perubahan-perubahan system yang terjadi
d)
Meningkatnya
kualitas system
e)
Rendahnya biaya yang
digunakan
f)
Hemat waktu
g)
Identifikasi dan
penyelesaian
kembali dari kebutuhan-kebutuhan yang
bertentangan
dari
berbagagi pelanggan.[35]
Pekerjaan
dari timQFD adalah
mendengarkan suara dari pelanggan. Isu-isu
utama
dalam suara pelanggan adalah:
a) Memikirkan
kebutuhan dan keinginan pelanggan
b)
Sebagai titik awal
untuk merancang
produk dan proses operasional
c) Berfokus
dan mengendalikan
proses
d)
Harus dimonitor secara terus menerus
F.
LITERATUR
REVIEW ( Studi Terdahulu )
Untuk
penelitian yang berjudul “Pengaruh Pelayanan Administrasi Terhadap Tingkat
Kepuasan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”, dari
hasil penelitian yang telah dilakukan penulis ditemukan beberapa karya ilmiah
oleh penelitian terdahulu yang pengaruh pelayanan terhadap tingkat kepuasaan
seseorang antara lain :
a. Jurnal
karya Rio Sudirman yang berjudul “Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap
Kepuasan Mahasiswa dan Citra Perguruan Tinggi” penelitian ini dilakukan di
Universitas 17 Agustus 1945 Bayuwangi ini ingin membahas tentang pengaruh
kualitas pelayanan ada pengaruh atau tidak adanya kepada tingkat kepuasan
mahasiswa dan citra perguruan tinggi di Universitas 17 Agustus Bayuwangi.
Dimana dalam penelitian ini berdampak positif mahasiswa puas dengan pelayanan
akademik yang diberikan akan tetapi akademik dan Universitas harus banyak
menambah kegiatan akademik dan memperbaiki gedung yang sudah rusak dan menambah
gedung-gedung baru sebagai kekuatan fisik. (Sudirman, Jurnal Analisis Pengaruh
Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Mahasiswa dan Citra Perguruan Tinggi)
b. Indra
Ashoka Mahendrayana (2004) meneliti pengaruh kualitas pelayanan terhadap
kepuasan konsumen jasa perhotelan pada Patra Semarang Convention Hotel.Variabel
yang dijadikan sebagai indikatornya adalah keandalan, daya tanggap, keyakinan,
empati, dan wujud fisik. Metode pengambilan sampel yang digunakan "proportional
stratified random sampling" yaitu suatu sampel yang dipilih
berdasarkan populasi yang terbagi atas tingkatan-tingkatan atau strata yang
bersifat heterogen sehingga jumlah sampel yang diambil sebanding dengan jumlah
anggota setiap strata. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara kualitas pelayanan yang dilakukan oleh Patra Semarang Convention
Hotel dengan kepuasan pelanggan. Hasil lain dengan menggunakan uji F diketahui
bahwa variabel kualitas pelayanan mempengaruhi variabel kepuasan pelanggan
secara simultan. Dari hasil perhitungan didapat nilai F hitung sebesar 13,418
dengan probabilitas signifikansi mendekati nol. Dengan demikian, H0
ditolak,
artinya bahwa variabel keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti
fisik secara bersama-sama mempengaruhi yang berarti terhadap kepuasan
pelanggan. Sedangkan melalui uji T yang telah dilakukan, diketahui bahwa hanya
variabel bukti fisik, jaminan, dan daya tanggap saja yang secara signifikan
dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan secara parsial.Dimensi bukti fisik
memiliki pengaruh paling kuat dalam mempengaruhi terciptanya kepuasan
pelanggan, diikuti dengan dimensi jaminan dan daya tanggap.
c. Penelitian
lain juga dilakukan oleh Hasan (2006) dalam Jurnalnya yang berjudul “Pengaruh
Kualitas Jasa Bank Syariah Terhadap Kepuasan Nasabah pada Bank Muammalat
Indonesia Cabang Semarang” dengan variabel-variabel penelitian yang meliputi
compliance, assurance, tangibles, reliability, empathy, responsiveness, dan
kepuasan nasabah didapatkan hasil bahwa variabel compliance, assurance,
tangibles, reliability, empathy, responsiveness berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan nasabah.
G.
KERANGKA
TEORI
Dari teori yang telah dipaprkan
sebelumnya, penulis merancang suatu kerangka konsep pemikiran yang dapat
dijadikan landasan atau acuan dalam penelitian. Kerang konsep dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
![]() |
![]() |
Dari
konsep diatas, dapat diklarifikasi bahwa hubungan antara variabel X dan
variabel Y terdapat perbedaan atau penengah antara kedua variabel tersebut. Dalam
kerangka konsep ini Variabel X adalah “Pengaruh Pelayanan Administrasi di
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Variabel Y adalah “Tingkat Kepuasan
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan.
H.
DEFINISI
OPERASIONAL
Defisi Operasional adalah melekaatkan arti pada
suatu variabel dengan cara menetapkan kegiatan atau tindakan yang perlu untuk
mengukur variabel itu. Definisi operasional menjelaskan variabel, sehingga
memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan pengukuran dengan cara yang sama
atau mengembangkan cara pengukuran yang lebih baik, Indriantoro & Supomo
(2002).
Tingkat kualitas pelayanan tidak dapat dinilai
berdasarkan sudut pandang atau persepsi Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta tetapi harus di lihat dari sudut pandang penilaian
pelanggan dalam hal ini adalah mahasiswa. Karena itu Prodi Ilmu Pemerintahan
UMY berorientasi pada harapan atau kepentingan pelanggan (mahasiswa) denagn
memperhatikan komponen kualitas dan kuantitas pelayanan. Untuk mengetahui itu
maka saya mengutip dari Zeithaml, Parasuraman & Berry. Indikator-indikator
tersebut adalah :
a. Bukti
fisik (Tangibles)
-
Keberhasilan ruangan
-
Kerapian berpakaian karyawan (mahasiswa)
-
Penataan tempat
b. Kehandalan
(Reliability)
-
Ketepatan waktu bila berjanji
-
Jujur dalam pelayanan
-
Kesiapan petugas melayani pelanggan
(mahasiswa) setiap waktu
c. Daya
Tanggap (Responsiveness)
-
Kesediaan membantu konsumen
-
Komunikasi yang baik, ramah dan sopan
-
Kecepatan Pelayanan
d. Jaminan
(Assurance)
-
Keramahan karyawan
-
Petugas atau karyawan memberikan
informasi yang jelas dalam pelayanan
-
Pengetahuan karyawan yang memadai
e. Empati
(Emphaty)
-
Kesiapan karyawan dalam menerima keluhan
dan pengaduan pelanggan
-
Tanggung jawab keamanan dan kenyamanan
-
Perhatian terhadap kebutuhan konsumen
I.
DEFINISI
KONSEPTIONAL
Kualitas
pelayanan adalah penilaian mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta terhadap tingkat pelayanan yang diterima dengan tingkat pelayanan
yang diharapkan. Philip Kotler berpendapat terdapat lima determinan kualitas
pelayanan yakni kepercayaan atau kehandalan (Reliability), Daya Tangkap (Responsiveness),
Keyakinan (Assurance), Empati (Emphaty) dan Berwujud (Tangibles).
J.
HIPOTESIS
Hipotesis merupakan jawaban sementara
atau lebih sering di katakana sebagai dugaan sementara terhadap masalah
penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan
hubungan apa yang kitacari atau ingin kita pelajari. Hipotesis adalah
keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Oleh karena
itu, perumusan hipotesis menjadi sangat penting dalam sebuah penelitian.[37]
Hipotesis
terbagi 2 yakni hipotesis nol dan hipotesi alternative :
-
Hipotesis
Nol
Hipotesis nol adalah hipotesis yang
menyatakan tidak adanya hubungan antara variable independen (x) dengan variable
(y).artinya dalam rumusan hipotesis yang diuji adalah ketidak benaran variable
(x) mempengaruhi variable (y). hipotesis diuji melalui tes atau perhitungan
statistika yang cermat, untuk menemukan suatu tingkat signifikasi hubungan
tertentu dari variable-variabel yang diteliti. Hipotesis nol dikerjakan untuk
mengerjakan ketidak benaran (untuk ditolak) hubungan variable variable (x) dan
(y) jika terbukti bahwa hipotesis nol tidak didukung oleh bukti-bukti empiris
bisa diartikan hipotesis nol diterima.[38]
Contoh
:
Tidak
Ada Pengaruh Pelayanan Administrasi di Fisipol UMY Terhadap Tingkat Kepuasan
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
-
Hipotesis Alternatif
Hipotesis
alternatife adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variable
independen (x) dengan variable dependen (y) atau adanya perbedaan atau penengah
antar dua variable.[39]
Contoh :
Ada
Pengaruh Pelayanan Administrasi di Fisipol UMY Terhadap Tingkat Kepuasan
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Berangkat
dari latar belakang masalah atau kerangka konsep dan penjelasan diatas maka
dalm penelitian ini menggunkan hipotesis alternatif, dimana :
“
Adanya Pengaruh Pelayanan Administrasi Terhadap Tingkat Kepuasan Mahasiswa Ilmu
Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”.
K.
METODE
PENELITIAN
K.1 Jenis Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Penelitian diskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara
sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta atau fenomena serta gejala yang
diteliti (Prasetyo, 2005 : 42).
K.2
Lokasi Penelitian
Adapun yang menjadi lokasi penelitian ini dilakukan di Kampus
Tercinta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Adapun alasan pemilihan lokasi
ini adalah :
a. Lokasi
ini merupakan salah satu kawasan tempat peneliti melangsungkan studi sehingga
memudahkan dalam mengakses data atau dokumen yang diperlukan.
b. Terdapat
unit analisis yang dapat mendukung penelitian ini seperti nyatanya kejadian
yang diteliti dalam kegiatan perkuliahan setiap hari.
K.3
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan atau mengumpulkan data (informasi)
yang dapat menjelaskan dan atau menjawab permasalahan penelitian yang
bersangkutan secara objektif.
Data penelitian dapat
digilongkan menjadi dua bagian yaitu data primer dan data skunder. Dimana data
tersebut diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang biasa
digunakan dalam penelitian. Yaitu :
a. Studi lapangan
Yaitu
teknik pengumpulan data melalui penelitian langsung dengan turun kelokasi
penelitian untuk mencari fakta atau data-data yang berkaitan dengan masalah
yang diteliti, yaitu dengan cara :
a. Observasi
: merupakan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan
gambaran yang tepat mengenai objek penelitian.
b. Wawancara
: yaitu proses pengumpulan data atau informasi dengan mengajukan pertanyaan
secara langsung kepada sumber informasi yang tepat atau subjek penelitian untuk
melengkapi data dari hasil observasi.
c. Kuesioner
: merupakan metode pengumpulan data dimana peneliti menggunakan
formulir-formulir yang berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban
atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. (Mardalis, 2002 :
67). Adapun responden dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
K.4 Teknik Sampling
K.4.1
Populasi
Populasi adalah gabungan dari seluruh elemen yang
berbentuk peristiwa, hal, atau orang yang memiliki karakteristik yang serupa
yang menjadi pusat semesta penelitian (Ferdinand, 2006:223). Populasi dalam
penelitian ini adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta. Populasi ini bersifat heterogen yang dapat dilihat dari beragamnya
usia, jenis kelamin, dan pendidikan.
K.4.2
Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ini, tidak seluruh
anggota populasi diambil, melainkan hanya sebagian dari populasi. Teknik yang
digunakan penulis dalam pengambilan sampel adalah teknik Simple Random Sampling
yaitu semua elemen dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih
menjadi sampel. Metode pengambilan sampelnya menggunakan Accidental Sampling.
Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa yang kebetulan
bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sampel jika dipandang cocok.
Langkah – langkah yang dilakukan dalam teknik
pengambilan sampel adalah :
Penyebaran kuisioner dilakukan dengan cara
mendatangi mahasiswa secara langsung dan memberikan formulir pertanyaan yang
relevan dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan karena diharapkan hasil
yang didapatkan dari kuisioner tersebut lebih akurat.
K.5 Metode Analisis Data
Suatu penelitian membutuhkan analisis data dan
intepretasinya yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti
dalam rangka mengungkap fenomena
sosial tertentu. Analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam
bentuk yang lebih mudah dibaca dan diintepretasikan. Metode yang dipilih untuk
menganalisis data harus sesuai dengan pola penelitian dan variabel yang akan
diteliti. Dalam penelitian ini digunakan analisis kuantitatif.
Analisis Kuantitatif Merupakan suatu pengukuran yang
digunakan dalam suatu penelitian yang dapat dihitung dengan jumlah satuan
tertentu atau dinyatakan dengan angka-angka. Analisis ini meliputi pengolahan
data, pengorganisasian data dan penemuan hasil.
Adapun analisis kuantitatif yang digunakan dalam
penelitian ini adalah menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda. Analisis
regresi digunakan untuk mengetahui pengaruh satu variabel atau lebih terhadap
variabel lain.
Y
= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e
Dimana :
Y
= Kepuasan Mahasiswa
A = konstanta
b1-b5
= koefisien regresi
X1 = Reliability
X2 = Responsiveness
X3 = Assurance
X4 = Empathy
X5 =
Tangibles
e
= error
DAFTAR
PUSTAKA
Arnil,
Muhammad. 1995, Komunikasi Organisasi, Jakarta,
Bumi Aksara.
Assael
H, 1994, Consumer Behavior and Marketing
Action, Baston Masachusetts:PWS-Kelling Publishing Company
Bandu,
Muh Y, 2013, Skripsi “Pengaruh Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada PT PLN (Persero) Rayon Makassar
Barat”, Universitas Hasanuddin
Barata,
Atep Adya, 2004 dalam Erlando, Analisis
Pengaruh Pelayanan Prima (Service Excellence) Terhadap Kepuasan Pelanggan
(Studi Pada Spbu Pertamina 34-12708), Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Mei 2009
Danim,Sudarwan,
2003, Agenda Pembaharuan Sistem
Pendidikan,Yogyakarta:Pustaka Pelajar, Cet.1
Effendy,
O Uchjana. 1982, Ilmu Komunikasi Teori
dan Praktek, Rosda
Gasper,
Vincent, 2002, Penerapan Konsep VINCENT
Teantang Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total, Jakarta:Yayasan Indonesia
Emas dan PT Gramedia Pustaka Utama
Gaspers,
Vincent, 2008, Total Quality Management,
Jakarta:Gramedia
Hadi,
Sutrisno, 1985, Metodologi Research,
Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM
J.Suptanto,
2006, Pengukuran Tingkat Kepuasan
Pelanggan, Jakarta : PT. Rineka Cipta
Kotler,
Philip. 2005, Manajemen Pemasaran Edisi
Kesebelas Jilid I, Jakarta, PT Indeks Gramedia.
Lupiyodo,
Rambat, 2001, Manajemen Pemasaran Jasa
Teori dan Pratik, Edisi Pertama, Jakarta: Penerbit Salemba Empat
Mardalis,
2002, Metodologi Penelitian, Jakarta
: Bumi Aksara
Moenir,
2000, dalam Mochammad Chaerani D., Analisis
Kinerja Pelayanan Importasi Jalur Hijau pada Kantor Wilayah VI Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai Semarang, (Semarang: Universitas Diponegoro, Mei
2006)
Nasution,
M Nur, 2010, Manajemen Mutu Terpadu,
Bogor:Ghalia Indonesia
Nasution,
M Nur, 2004, Manajemen Mutu Terpadu,
Bogor:Ghalia Indonesia
Patton,
Patricia, 2000, EQ Pelayanan Sepenuh
Hati, Meraih EQ Untuk Pelayanan Yang Memuaskan Pelanggan, Jakarta : Pustaka
Delapratasa
Peter,J
Paul, 2013, Consumer Behavior, Prilaku
Konsumen dan Strategi Pemasaran,Jakarta:PT.Gelora Aksara Pratama
Rahayu,Sugi,
2006, Jurnal “Ekspentasi Mahasiswa
Terhadap Pelayanan Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Negeri
Yogyakarta, Yogyakarta:Universitas Negeri Yogyakarta
Rahmayanti,
Mina, 2010, Manajemen Pelayanan Prima,
Yogyakarta : Graha Ilmu
Ratminto &
Atik Septi Winarsih. Manajemen Pelayanan:
Pengembangan Model
Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter
dan Standar Pelayanan Minimal, (Yogyakarat: Pustaka Pelajar, 2009)
Sallis,
Edward, 2007, Total Quality Management in
Education, Yogyakarta : IRCisSoD,Cet.V
Sarjono,
Yetty, 2006, Faktor-faktor Strategik
Pelayanan Dosen dan Dampaknya Terhadap Kepuasan Mahasiswa FKIP Universitas
Muhammadiyah Surakarta Tahun 2005-2006, Surakarta:Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sudirman,
Rio, Jurnal, Analisis Pengaruh Kualitas
Pelayanan Terhadap Kepuasan Mahasiswa dan Citra Perguruan Tinggi, Bayuwangi
Teguh,Hendra,
et.al., 2002, dalam Anton Wijaya, Pengaruh
Pelayanan Adminiistrasi AKademik terhadap Kepuasan Mahasiswa Fakultas Bisnis
dan Manajemen Universitas Widyatama, Bandung: Fakultas Bisnis dan Manajemen
Universitas Widyatama, November 2005
Tim
Bahasa BP, Kamus Besar Bahasa Indonesia:
Edisi Revisi, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999)
Tiptono,Fandi,
2006, dalam Sonya Mahanani, Skripsi
Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan Pembayaran
Listrik (Studi Pada Unit Pelayanan Pelanggan Semarang Barat), Semarang:
Universitas Diponegoro, September 2010
Tjiptono,
Fandi, 2005, Prinsip-Prinsip Total
Quality Service, Yogyakarta : CV Andi Offset
Yamit,Zulhan,
2001, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa, Yogyakarta:Ekonisa
Yun,Chang
Zaph, et.al., 1998, Kualitas Global
Manaemen Kualitas Total (TQM) di Singapoera Airlines (SIA), Jakarta:Pustaka
Delapratasa
[1] Effendy, O Uchjana. 1982, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Rosda
[2] Kotler, Philip. 2005, Manajemen Pemasaran Edisi Kesebelas Jilid I,
Jakarta, PT Indeks Gramedia.
[3] Arnil, Muhammad. 1995, Komunikasi Organisasi, Jakarta, Bumi
Aksara.
[4] hasil observasi Amir Hamzah,
Rabu, 27 Desember 2014 pukul 11.00 WIB
[6] Hasil observasi Amir
Hamzah,Sabtu, 27 Desember 2014 pukul 11.00 WIB
[7] Ratminto &
Atik Septi Winarsih.
Manajemen Pelayanan: Pengembangan
Model
Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar
Pelayanan Minimal, (Yogyakarat: Pustaka
Pelajar, 2009), Cet. II, hlm. 2
[8] Hendra Teguh, et.al., 2002,
dalam Anton Wijaya, Pengaruh Pelayanan Adminiistrasi
AKademik terhadap Kepuasan
Mahasiswa Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama, (Bandung:
Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama, November 2005), hlm. 16
[9]Moenir, 2000, dalam Mochammad
Chaerani D., Analisis Kinerja Pelayanan Importasi Jalur Hijau pada Kantor
Wilayah VI Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Semarang, (Semarang: Universitas
Diponegoro, Mei 2006), hlm. 23.
[10]Atep Adya Barata, 2004 dalam
Erlando, Analisis Pengaruh Pelayanan Prima (Service Excellence) Terhadap
Kepuasan Pelanggan (Studi Pada Spbu Pertamina 34-12708), Jurnal, (Jakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Mei 2009), hlm. 2.
[11] Tim Bahasa BP, Kamus Besar
Bahasa Indonesia: Edisi Revisi, (Jakarta: Balai Pustaka,
1999), hlm. 206.
[12] Mochammad Chaerani
D., Analisis Kinerja
Pelayanan Importasi Jalur
Hijau pada
Kantor Wilayah VI Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai Semarang, hlm. 24
[13] Fandi Tjiptono, 2006, dalam
Sonya Mahanani, Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan
Pelanggan Pembayaran Listrik
(Studi pada Unit
Pelayanan Pelanggan
Semarang Barat), Skripsi,
(Semarang: Universitas Diponegoro, September 2010), hlm. 11.
[14]
Chang Zeph Yun, et. al., Kualitas Global Manajemen Kualitas Total (TQM)
di Singapura
Airlines (SIA), (Jakarta: Pustaka
Delapratasa, 1998), hlm. 153.
[15]
J. Supranto, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2006), hlm. 231
[16]Ratminto dan Atik Septi Winasih,
Manajemen Pelayanan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,
2009) hlm. 28.
[17]Zulhan Yamit, Manajemen Kualitas
Produk dan Jasa, (Yogyakarta: Ekonisa, 2001), hlm. 55
[18] Ibid. hlm. 56
PublishingCompany,1994),hlm.426.
[21]J.Paul
Peter,
Consumer Behavior, Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran,
(Jakarta:
PT.Gelora Aksara
Pratama),
hlm.157.
[23]Edward
Sallis,Total
Quality managementin Education, (Jogjakarta:IRCiSoD,2007),
Cet.V,hlm.56-57.
[25]M.NurNasution,
Manajemen Mutu terpadu, (Bogor:GhaliaIndonesia,2010), hlm.48.
[27] Vincent Gaspersz, Penerapan
Konsep VINCENT Tentang Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total, (Jakarta: Yayasan
Indonesia Emas dan PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 47-48.
[28]M.Nur
Nasution,Manajemen
Jasa
terpadu(Total Service
Management),(Bogor:Ghalia
Indonesia,2004), hlm.104.
[29]Lupiyoadi,
Rambat,
Manajemen Pemasaran
Jasa Teori dan
Pratik, Edisi Pertama,
(Jakarta:
Penerbit Salemba Empat,2001).hlm57.
MemuaskanPelanggan,(Jakarta:PustakaDelapratasa,2000),hlm.12-21.
[31]FandiTjiptono,Prinsip-PrinsipTotalQualityService,(Yogyakarta:CV
AndiOffset,2005),hlm.134-141.
[32]Yetty
Sarjono, Faktor-faktorStrategik Pelayanan Dosen dan
Dampaknya terhadap KepuasanMahasiswaFKIPUniversitasMuhammadiyah
SurakartaTahunakademik2005-2006,
(Surakarta:UniversitasMuhammadiyahSurakarta,2006), hlm.66-67.
[36]J.PaulPeter,ConsumerBehavior,PerilakuKonsumendanStrategiPemasaran,(Jakarta:PT.GeloraAksaraPratama),hlm.167-169
[37]
www.wikipedia.org
[39]Ibid
32

